ANGGARAN
Dalam buku "Millionare Next Door", Danko dan Stanley telah
menyatakan bahwa hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa
orang kaya meluangkan waktunya untuk membuat dan memeriksa
anggaran dua kali lebih banyak daripada orang biasa. Hal ini
menunjukkan bahwa pembuatan anggaran keuangan untuk pribadi
ataupun keluarga merupakan salah satu proses yang penting
dalam mengelola keuangan kita.
Namun, karena dalam pembuatan anggaran kita mesti memperkirakan
masa depan, terkadang kita tidak tahu pasti berapa pendapatan
ataupun berapa pengeluaran untuk salah satu bidang. Terkadang
kita hanya bisa memperkirakan dalam satu rentangan nilai. Misalkan
saja kita tidak tahu harga pasti dari Paket Liburan yang hendak
kita beli untuk liburan Desember nanti. Namun kita bisa memperkirakan
bahwa harganya sekitar Rp. 2.000.000 - Rp. 3.000.000 per orang.
Nah, dalam artikel kali ini, kita mempelajari mengenai cara untuk
memasukan nilai-nilai seperti ini ke dalam anggaran kita.
Perhitungan Pesimis Digunakan Untuk Anggaran Pendapatan
Misalkan saja Bu Tini bekerja sebagai designer part time dari
perusahaan baju. Bayarannya dihitung berdasarkan jumlah design yang
diterima. Untuk setiap design, Bu Tini menerima sekitar
Rp. 100.000,-. Setiap minggu Bu Tini membuat 10 design, dan biasanya
perusahaannya menerima sekitar 30%-50% dari design Bu Tini.
Sekarang mari kita hitung perkiraan pendapatan Bu Tini per bulannya.
Setiap minggu Bu Tini membuat 10 design, kita asumsikan dalam sebulan
terdapat 4 minggu, jadi per bulan Bu Tini membuat 40 design. Perusahaan
menerima sekitar 30% hingga 50% dari design Bu Tini, dengan kata lain
jumlah design yang diterima adalah sekitar 12 hingga 20 design. Dengan
dikalikan Rp. 100.000,-, maka kita mendapatkan bahwa perkiraan
penghasilan bulanan Bu Tini adalah Rp. 1.200.000,- hingga
Rp. 2.000.000,-.
Nah, dalam membuat anggaran untuk pendapatan seperti ini, Bu Tini
harus mempergunakan perhitungan pesimis. Artinya? Dalam rentangan
hasil perhitungan (Rp. 1.200.000,- hingga Rp. 2.000.000), Bu Tini
mengambil angka yang paling KECIL untuk dimasukkan ke dalam
anggarannya. Dalam hal ini, dalam anggaran Bu Tini tercantum bahwa
pendapatan bulanannya adalah Rp. 1.200.000.
Mengapa kita mengambil angka yang paling kecil dalam anggaran
pendapatan kita? Tujuannya adalah agar dalam merencanakan belanja,
kita membuat rencana yang tidak membelanjakan lebih dari
Rp. 1.200.000.
Bagaimana kalau ternyata pendapatan bulan ini adalah Rp. 2.000.000?
Sementara kita hanya membuat rencana belanja Rp. 1.200.000? Nah,
kalau ini sampai terjadi artinya Bu Tini memiliki uang lebih
sebanyak Rp. 800.000. Uang ini bisa ditabung atau digunakan
untuk keperluan lain.
Di sisi lain, apabila Bu Tini menuliskan pendapatan Rp. 2.000.000
pada anggarannya, dan membuat anggaran belanja sebesar
Rp. 2.000.000,- juga. Bu Tini akan kelabakan apabila ternyata
penghasilannya pada saat itu Rp. 1.200.000,-. Terjadi kekurangan
uang sebesar Rp. 800.000,-. Dan kalau kekurangan ini terjadi
pada pos pengeluaran yang penting, maka mau gak mau Bu Tini
harus berhutang atau menjual assetnya untuk menutupi biaya
tersebut.
Jadi dalam pembuatan anggaran pendapatan dan pengeluaran pribadi
ataupun keluarga, kita perlu menyadari bahwa prinsipnya lebih baik
terjadi kelebihan uang daripada kekurangan uang. Untuk mencegah
agar tidak terjadi kekurangan uang, maka untuk memperkirakan
pendapatan kita menggunakan perhitungan pesimis. Ambilah angka
yang paling kecil.
Perhitungan Optimis Digunakan Untuk Anggaran Biaya
Biaya masuk Universitas X didasarkan pada nilai yang diperoleh
calon mahasiswa pada saat ujian masuk. Untuk Grade A, biaya
masuknya adalah Rp. 5.000.000, untuk Grade B, biaya masuknya
adalah Rp. 7.000.000,-, untuk Grade C biaya masuknya adalah
Rp. 9.000.000,- sementara untuk Grade D biaya masuknya adalah
Rp. 11.000.000,-. Anak dari Pak Hasan akan memasuki Universitas X
pada tahun mendatang. Berapakah jumlah uang yang harus disiapkan
oleh Pak Hasan dengan asumsi tidak ada peningkatan biaya masuk
Universitas X?
Nah, kebalikan dari anggaran pendapatan, untuk memperkirakan
biaya kita harus mempergunakan perhitungan optimis. Ambilah
nilai yang paling BESAR. Dalam kasus diatas, jawabannya sederhana.
Pak Hasan harus menyediakan uang sebesar Rp. 11.000.000,- untuk
uang masuk ke Universitas X.
Sekarang pertanyaannya, apabila Pak Hasan sudah menyediakan uang
sebesar Rp. 11.000.000,-, dan ternyata anaknya lulus ujian masuk
dengan grade A. Apa yang terjadi? Tidak ada masalah. Sang anak
berhasil menghemat biaya masuk kuliah sebesar Rp. 6.000.000,-.
Uang ini bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya. Pak Hasan
bisa saja membelikan hadiah sebagai reward kepintaran anaknya.
Di sisi lain, bagaimana jika Pak Hasan hanya menyediakan uang
sebesar Rp. 5.000.000,- lalu ternyata anaknya hanya mendapat
Grade D dalam ujian masuk Universitas X? Disini baru terjadi
masalah. Uang Pak Hasan tidak cukup untuk membayar uang masuk
universitas. Biasanya masalah seperti ini diselesaikan dengan
cara berhutang, mejual asset, atau mencari universitas lain.
Dalam kasus terburuk, sang anak tidak jadi kuliah. Kasihan.
Kembali ke prinsip pembuatan anggaran tadi, lebih baik terjadi
kelebihan uang daripada kekurangan uang. Dalam perhitungan
biaya atau pengeluaran kita harus menggunakan cara optimis.
Ambilah perkiraan biaya yang paling tinggi. Dengan cara
seperti ini kita akan terhindar dari masalah keuangan.
Sekian artikel dari saya untuk kesempatan kali ini. Semoga
dapat berguna untuk pengelolaan keuangan Saudara Kurniadi Prabowo.
Regards,
David Ciang
http://www.keuanganpribadi.com?id=phing
Situs ini diperkenalkan oleh Julyanna Chandra
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar